Bahasa korporat menciptakan gaya komunikasi baru, memunculkan jargon-jargon baru, tetapi di sisi lain menimbulkan risiko alienasi baru.
Selasa, 01 Jul 2025 17:29 WIB
Di sudut ruang kerja sebuah agensi kreatif Jakarta, Ayuni, seorang Account Executive berusia 27 tahun, menatap layar laptopnya dengan alis sedikit berkerut. Klien baru saja mengeluh: iklan di Facebook Ads yang seharusnya tayang kemarin ternyata salah jadwal.
Dengan nada tenang tapi tegas, Ayuni berbalik ke rekannya, penulis konten bernama Dika, “Dik, kita perlu escalate isu ini ke tim media, ASAP. Klien udah flag soal jadwal, dan aku udah loop in mereka via email. Untuk sekarang, kita align dulu sama brief awal, biar ga ada miscomm. Bisa bantu draft respons ke klien sebelum EOD?”
Dika mengangguk, seraya menjawab singkat, “Noted, Yu. Aku circle back setelah sync sama tim.”
Percakapan penuh jargon, yang terdengar seperti kode rahasia, tersebut adalah contoh penggunaan bahasa korporat. Ialah ciri khas dunia kerja modern yang penuh dengan istilah trendi, perpaduan bahasa Inggris-Indonesia.
Tapi, di balik itu ada cerita panjang tentang proses kelahiran bahasa korporat, juga evolusi dan pengaruhnya terhadap cara para buruh bekerja, termasuk penyikapan Ayuni yang tetap tenang di tengah krisis klien.
Jauh sebelum ruang rapat dipenuhi istilah-istilah seperti strategi pemasaran, logistik acara, siap, serta izin, banyak dari kosakata inti dunia korporat modern ditempa di medan perang dan barak militer.
Secara global, khususnya di Amerika Serikat pasca-Perang Dunia II, terjadi integrasi besar-besaran para veteran militer ke dalam dunia bisnis yang sedang berkembang pesat. Mereka tidak hanya membawa keahlian teknis, tetapi juga leksikon dan cara berpikir yang terbentuk selama masa dinasnya.
Istilah-istilah fundamental, seperti strategy (strategi), tactics (taktik), logistics (logistik), serta boots on the ground (pasukan di lapangan), mulai diadopsi secara luas. Tujuannya awalnya adalah menanamkan tingkat presisi, efisiensi, dan keseriusan yang sama seperti dalam operasi militer ke dalam lingkungan korporat.
Adopsi tersebut bukan sekadar peminjaman kata secara acak. Dunia militer dan bisnis pada dasarnya memiliki banyak kesamaan: keduanya berorientasi pada pencapaian tujuan, berstruktur hierarkis, serta sangat bergantung pada perencanaan dan eksekusi cermat. Bahkan, filosofi militer dianggap dapat memberikan pelajaran berharga bagi para manajer.
Pada abad ke-19, Carl von Clausewitz pernah menganalisis prinsip-prinsip perang, yang kemudian dituangkan dalam The Principles of War. Karya tersebut merupakan salah satu "panduan" penting bagi para peneliti perang era mendatang. Di antara prinsip-prinsip yang ditelitinya adalah objective, offensive, mass, economy of force, maneuver, unity of command, security, surprise, dan simplicity.